Sport Injury

injury

  • Cedera Olahraga

Aktifitas olahraga di Indonesia kian maju berkembang dengan banyaknya fasilitas dan kegiatan olahraga yang dibangun oleh pemeritah dan swasta. Olahraga tidak hanya ditujukan untuk meraih prestasi saja, melainkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan tubuh.

Perlu kita ketahui bahwa olahraga juga memiliki resiko berupa cedera, baik otot, sendi dan tulang. Dampaknya adalah permasalahan psikologis, penurunan prestasi dan kualitas kesehatan tubuh.

Cedera olahraga didefinisikan sebagai suatu kerusakan anggota gerak tubuh yang terjadi saat melakukan aktivitas olahraga, saat berlatih, bertanding dan aktifitas olahraga rekreasi baik pada atlet professional, amatir dan non-atlet.

Pemulihan cedera memerlukan perencanaan yang baik dan tepat sesuai dengan kondisi cedera dan karakteristik individu. Dikarenakan area tubuh yang cedera akan mengalami penurunan masa otot, kerja saraf, perubahan gerakan tubuh, dan penurunan stabilitas sendi. Untuk mencapai hasil yang diharapkan dan maksimal butuh kerjasama antara fisioterapis dan pasien itu sendiri. Target akhir dari program ini adalah kembali berlatih, bertanding, dan berolahraga tanpa adanya masalah cedera yang telah dialami sebelumnya.

 

Kasus cedera olahraga seperti Sobek Ligamen ACL (ACL Tear), Meniscus Tear, Tendinitis Lutut, SLAP Lession sendi Bahu, Tedinitis Bahu, Sprain Ankle, dan Strain Hamstring.

Dalam program pemulihan cedera olahraga, ARA Physiotherapy memiliki lima (5) tingkat pemulihan, yaitu :

  1. Manajemen nyeri dan fungsional otot dan sendi
  2. Kebugaran Kardiopulmonal
  3. Peningkatan kekuatan otot dan stabilitas tubuh
  4. Koordinasi, power dan kecepatan

Evaluasi kebugaran dan return to sport test

Sport Therapy

Lima Tingkat Pemulihan Cedera Olahraga di ARA Physiotherapy

 

  • Asesmen Resiko Cedera Olahraga

Upaya terbaik bebas dari cedera olahraga adalah Pencegahan (Preventive). Pencegahan cedera olahraga dapat kita lakukan secara mandiri dan bantuan fisioterapis dengan memahami kondisi fisik internal dan eksternal tubuh. Upaya ini akan berhasil jika dilakukan pemeriksaan khusus, agar program latihan  sesuai dengan kondisi fisik yang telah kita miliki, bukan mengikuti program latihan individu lain.

Program asesmen ARA Physiotherapy dilakukan dengan cara menganalisa gerak tubuh saat berlari dan melakukan gerakan fungsional olahraga dasar dan spesifik berdasarkan cabang olahraga yang diminati. Hasil dari asesmen ini berupa fleksibilitas, koordinasi gerak, derajat biomekanika gerak tubuh, kekuatan otot dan stabilitas tubuh.

Output yang didapatkan setelah asesmen berupa rancangan program latihan pencegahan cedera berdasarkan hasil asesmen.

 

  • Tim Medis Olahraga

Tingginya kegiatan olahraga di Indonesia tidak lepas dari permasalahan cedera olahraga. Dalam pelaksanaan kegiatan olahraga tidak lepas dari adanya Tim Medis. Tim Medis haruslah memiliki kualifikasi khusus dalam penanganan cedera olahraga.

Penanganan cedera olahraga terbaik adalah saat cedera itu terjadi di lapangan. Hal ini ditujukan untuk mencegah resiko kerusakan organ tubuh lainnya, dan mempertahankan performa tubuh paska cedera.

ARA Physiotherapy memiliki tim khusus untuk dapat ditempatkan pada kegiatan olahraga sebagai tim medis baik satu sesi kegiatan olahraga maupun dikhususkan untuk satu kelompok atau klub olahraga.